• Cek Yuk!

    15 February 2026

    Rindu Bumi dan Kata-Kata Senja


    Kalau tak teringat janjinya, Bumi akan memilih terus tergeletak di atas kasur lepek di dalam kamarnya, di pojok kosan yang sedang sunyi itu. Selasa pagi, 14 Februari 1995, belum pukul sembilan. Anak-anak kosan kebanyakan sudah berangkat ke kampus, sementara Bumi masih berdamai dengan pegal-pegal di tubuhnya. Ia berbaring menikmati lelah, sisa perjalanan ke Gunung Lawu yang awet membekas, terutama di betis dan pahanya.

    Untungnya, ia punya waktu yang cukup longgar sebagai mahasiswa setengah fosil yang mulai jengah dengan pertanyaan, “kapan diwisuda, nak?”. Hari Senin, ia tak punya jam kuliah, dan sering disalahgunakan sebagai waktu rehat sesudah naik gunung, atau sepulang dari pergi ke mana saja. Ia memang biasanya memilih pergi hiking atau sekadar jalan-jalan di hari Sabtu, karena minggu sore bisa pulang dengan santai, lalu Senin dinikmatinya sebagai hari tidur nasional.

    “Pokoknya Selasa aku tunggu di kampus pusat, harus datang!” Ah, Bumi tak juga paham, kenapa menghadapi ultimatum gadis itu, ia selalu kalah begitu saja. Seharusnya dirinya yang punya kuasa. Nyatanya, ia dengan sukarela segera meraih handuk untuk mandi. Sambil mengeluh, bibirnya membuat senyum aneh, perpaduan rasa rindu dan ngilu. Ia berjingkat sambil membulatkan tekad, janji ini benar-benar harus ditepatinya, atau bisa gawat.

    Perjalanan ke Gunung Lawu bukan main capeknya buat Bumi, tidak hanya karena ketinggian atau lama perjalanannya. Pendakian itu sendiri terhambat berbulan-bulan, karena partner naik gunungnya masih sibuk menjalankan penelitian untuk skripsinya. Ia terpaksa menunggu kakak angkatan setahun di atasnya itu dengan setengah sabar, sambil mengumpulkan bekal yang juga sulit terkumpul.

    “Kamu ngapain terus-terusan ngajak ke Lawu? Apa nggak trauma kena badai di Slamet?” Mahen menatapnya dengan mata jahil. Teringat episode Gunung Slamet, Bumi yang biasanya tenang, tak kuasa juga menahan diri.

    “Ah, siapa yang tragedi, siapa yang ditanya?” tangkisnya. Keduanya berbalas tawa. Mahen, makhluk itulah yang muntah-muntah saat di Gunung Slamet, dan akhirnya memilih mengungsi ke tenda pendaki lain karena hipotermia. Pendakian saat itu boleh dikatakan gagal, jelas perlu remedial.

    Bumi sebenarnya bukan sebegitunya ngebet untuk pergi ke Lawu. Ke manapun tujuannya, buatnya hampir sama saja. Beberapa perjalanan bahkan dijalaninya dengan sangat mendadak. Yang terpenting buatnya, setiap perjalanan–apalagi yang cukup jauh, bakal mengalihkan dari semua pertarungan yang berkecamuk di dalam pikirannya, atau pergolakan yang memenuhi rongga batinnya. Setiap kali sedang sendiri, ia selalu diserang perasaan tak nyaman dan gelisah yang lebih sering tak bisa dipahaminya. Kadang-kadang, seolah ada suara-suara saling berteriak di alam pikirannya.

    “Ma, jual saja rumah ini, mungkin itu lebih baik.”
    “Ma, tak usah memaksakan diri, mungkin lebih bagus kalau berpisah saja, Bumi ngerti. Aku bakal bela Mama….”

    Sebenarnya, Bumi tak pernah merasa kokoh untuk bisa berbicara bak manusia bijak seperti itu. Ucapannya itu terlontar begitu saja, di tengah rasa tak berdaya yang perih, sebagai seorang anak yang tidak berguna. Ia memang tak mengeluhkan ketiadaan daya dukung untuk bisa memenuhi semua kebutuhan kuliah dengan ideal, tapi semuanya sungguh tak mudah.

    Semua itu berpadu dengan buah keputusannya untuk memaksakan diri masuk ke dalam lingkungan yang ketat saat SMA. Tadinya, ia berharap dogma yang dijalani sepenuh hati itu akan membawanya ke alam ketenangan hakiki, sebagaimana janji-janji yang didengarnya setiap kali.

    Sayangnya, ia malah harus menanggung pertarungan antara dua arah yang berbeda. Ia rapuh dan tak berdaya melihat keruntuhan orang tuanya, tapi juga di saat yang sama harus kuat dan tak pernah goyah memegang kesempurnaan yang ditanamkan sebagai acuannya. Bumi merasa terseret pusaran kehancuran, tetapi sekaligus juga harus melesat mewujudkan kejayaan.

    Masa kuliah lantas menjadi periode pembebasan yang menyala-nyala. Ketimbang kuliah serius menekuni bidangnya, ia lebih memilih membenamkan diri mengikuti kegiatan kemahasiswaan di kampus, menghabiskan energi dalam konon upaya pencarian jati diri, yang tak bisa dibedakannya dengan berlari tak henti-henti.

    Semua kegiatan yang diikutinya di tingkat fakultas, universitas, bahkan level nasional, bisa mengalihkan perhatiannya dari urusan pribadinya. Setidaknya sesaat. Karena itu, ia lantas menjalani beragam aktivitas itu silih berganti.

    Meski banyak mengagumi, dan melihat Bumi seolah tak pernah kehabisan energi, sebenarnya ia sedang memupuk rasa lelah karena terus berlari dari dirinya sendiri. Sebagai pelarian, Bumi seolah tak punya hati. Meski tak dipungkiri cukup banyak mahasiswi pernah berdekatan dengannya, tapi akhirnya mereka patah hati. Bumi sama sekali tak bangga atau menganggap itu reputasi. Ia sendiri malah bertambah kesal dengan dirinya sendiri.

    Ketika Senja menemukannya, Bumi sudah berada di ujung gang sempit keputusasaan yang asalnya diyakini sebagai jalan tol pembebasan. Dunia sudah terasa sempit, suram dan masam. Hanya naik gunung saja yang bisa menahan Bumi untuk tetap waras dan masih punya harapan, meski makin mengecil.

    Tiba-tiba, secara ajaib, Senja menunjukkan hal-hal kecil yang tak pernah Bumi pikirkan sebelumnya.

    Bumi terhanyut oleh ketenangan musik jazz yang lembut, terpesona melihat tulisan Senja yang begitu rapi, dan hal-hal lain yang tak pernah ditemui atau disadari sebelumnya. Senja tak mengomentari selera musik Bumi sebagai penyuka rock dan heavy metal, tapi konsistensinya memutar jenis lagu yang berbeda, membuat pemuda galau itu terpaksa merevisi definisi musik bagus yang diyakininya.

    “Mau berangkat jam berapa?” Bumi memegang gagang telepon umum dengan gagah, merasa digdaya karena menyaksikan tak ada saingan satu orang pun di dekatnya. Pemandangan ini bakal mustahil di malam hari, apalagi malam minggu, saat telepon umum diantre para calon penelepon yang sudah bersiap dengan koinnya masing-masing.

    “Sekarang dong. Ini udah siap berangkat. Ketemu di situ, ya!” Tidak pernah sekali pun Bumi tidak suka mendengar suara halus itu. Ia yakin sebenarnya suara itulah yang paling menyihir dibandingkan semua daya tarik Senja lainnya.

    “Hey, kok malah diem?”
    “Oh, iya iya. Aku juga udah di jalan, kok.”

    Pertemuan di tengah-tengah jarak antara kost Bumi dan Senja adalah sebuah upaya untuk mencari titik temu yang adil. Namun, sebenarnya titik tengah itu tak benar-benar dalam jarak yang sama jauhnya dari masing-masing titik awal keberangkatan. Kampus Bumi ada di luar kota, jadi pemuda itu selalu berpikir sungguh kasihan kalau Senja yang harus datang. Terlalu jauh. Sepintas pemikiran Bumi itu cukup mulia, tapi pada kenyataannya ia selalu merasa bahagia kalau justru itu yang dilakukan Senja. Anehnya pula, Senja selalu tampak begitu ceria saat mendatanginya, bahkan Bumi selalu melihat ketulusan dalam binar matanya.

    Kali ini, titik temu mereka berdua ada di depan kampus Senja. Tak jauh dari situ ada kedai langganan, dan ke situ tujuan langkah mereka berdua. Setengah jam kemudian, mereka sudah duduk berhadapan sambil menunggu makanan disajikan di atas meja.

    “Ini buatmu,” Senja mengeluarkan bingkisan berbungkus kertas kado berwarna merah muda, warna khas kesukaannya. Tentu Bumi seperti biasa dengan antusias langsung menerimanya. Seperti biasa juga, ia tak hanya memegang kado dari Senja, tapi sengaja menggenggam jari jemari putih itu lalu melama-lamakannya, sambil menatap wajahnya. Tangan itu baru dilepaskan Bumi ketika muka Senja makin merah merona dan raut lucunya muncul jenaka, sesuatu yang amat sulit dilupakan Bumi nantinya.

    “Aku buka, ya,” ucap Bumi seperti anak kecil, sambil tersenyum-senyum kecil. Ia melirik lagi ke arah Senja yang berusaha keras dan gagal memelototinya.

    Bumi memegang buku yang diberikan Senja. Tak pernah sekalipun ia merasa tidak suka saat diberi buku oleh perempuan istimewa itu. Bumi merasa semua keunikan Senja adalah keajaiban yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Kenapa kali ini hadiahnya buku? Ah, nyatanya ia suka sesuka-sukanya. Sejak kecil Bumi suka membaca, tapi tak pernah berpikir bahwa menerima hadiah buku akan semenyenangkan itu.

    Bumi mencari sesuatu dulu di antara halaman buku. Ia sudah hapal, di setiap hadiah yang diterimanya dari Senja, pasti ada tulisan terselip di dalamnya. Itu berlaku pada semua hadiah yang diterimanya, entah di berupa buku, kaset, baju, atau apapun itu.

    Kertas notes kecil berwarna pink pucat itu sudah tak ada, tapi Bumi masih ingat betul isinya. Tulisannya kecil, benar-benar kecil, bunyinya “Happy Valentine, Bumi”, dibubuhi tanda ‘love’ dan paraf Senja. Buku yang dihadiahkan Senja itu dipegangnya dengan sepenuh hati, sambil meresapi lembutnya getaran cinta yang membuat senyap dunia di sekelilingnya.

    Bumi tertunduk, memandangi buku itu lekat-lekat. Ada yang terasa panas di kelopak matanya.

    “Kamu pasti tahu betul, ‘barangsiapa mengikuti kebiasaan suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut’, itu yang kupegang kuat-kuat selama bertahun-tahun, bahkan sampai sekarang. Tak pernah ada seorang pun yang mengucapkan selamat hari valentine padaku kecuali kamu. Hanya sekali itu, dan tak pernah ada lagi ucapan sesudahnya. Aku tak yakin kalau kamu jahil dan sengaja menulis itu, padahal tahu kalau aku tak merayakan. Sebaliknya, aku yakin seyakin-yakinnya kamu tulus dan dalam. Hanya saja, gara-gara tulisanmu, akibat ucapan yang sekali-kalinya itu, sampai sekarang aku menyimpan rasa yang terus membeku. Aku harus bertemu lagi denganmu, aku mau minta tanggung jawabmu atas rindu yang keterlaluan dan sering membuatku bingung dari waktu ke waktu. Aku juga mau bilang, aku tak setuju ucapanmu itu bukan karena keyakinan ini dan itu, tapi karena yang kautuliskan itu ternyata berubah jadi kutukanku. Aku tak butuh satu hari yang diistimewakan itu. Aku mencintaimu setiap hari, setiap waktu. Tak mau aku dibatasi hari itu. Tolong aku, Senja, tolong aku…,” suara Bima pelan, tertahan, dan berujung isak.

    Sepasang tangan meraih buku yang sedang dipegang Bima, menariknya dengan lembut, lalu menyimpannya perlahan. Tangan Bima yang masih bergetar, dielus dan disentuhkannya pada wajah yang tersenyum tulus. Suara halus dan lembut segera menenangkan Bima.

    “Kakek selalu bergumam saat pegang buku itu. Kapan-kapan Kakek cerita, ya….”

    Jogja, 15022026

    No comments:

    Post a Comment

    Bicara Fiksi

    Fiksi Mini

    Inspirasi